Selasa, 08 Juli 2008

Minggu, 06 Juli 2008

Dakwah Profesional

Ketika da’wah tidak hanya bergulir di ruang-ruang masjid, namun juga dalam berbagai lembaga profesi dan kantor yang sarat formalisme (aturan baku yang mengikat) dan kecanggihan infrastruktur. Maka persoalan metode da’wah menjadi bahan renungan sangat penting. Salah satu dari metode itu ialah membasiskan seruan dan da’wah tersebut di atas prinsip-prinsip profesionalitas. Sesuatu yang di dalam Islam sering diistilahkan dengan itqon.

Kebutuhan akan profesionalitas dalam mengajak orang ke jalan kebaikan, sesungguhnya tidak hanya monopoli bagi orang-orang kantor. Tetapi setiap pekerjaan, terlebih ajakan ke jalan kebaikan, kepada siapapun ajakan itu disampaikan, kepada siapapun seruan itu disuarakan, semuanya memerlukan pengelolaan yang profesional. Itu sudah menjadi garis jalan (sunnah) yang ditetapkan Allah. Ia bahkan telah menyatu dengan tata kehidupan alam semesta.

Seorang muslim yang bisa tampil profesional dalam lingkup tugasnya, akan punya ruang dan kesempatan lebih untuk menyampaikan ajakannya ke jalan kebaikan. Maka, dapat dikatakan, sebelum mengajak orang lain, kita sendiri harus tampil profesional pada bidang-bidang harian yang menjadi tanggung jawab kita.

Berikut ini beberapa hal mendasaryang merupakan pilarpenting profesionalitas.



1. Kesungguhan Kerja (Performance)

Dalam konteks menjalankan tugas, misalnya, memahami secara mendalam materi penugasan yang kita emban adalah hal yang sangat penting. Sehingga, paling tidak, mesti tertanam dua motivasi dalam diri kita.

Pertama, bahwa pelaksanaan tugas ini terkait dengan prinsip bahwa kita selalu diawasi Allah SWT. Kedua, bahwa tugas itu pada hakekatnya adalah sarana "perkenalan" yang efektif kepada rekan-rekan dan atasan kita. Oleh sebab itu, perlu kiranya diupayakan penambahan ide-ide baru orisinil kita dalam penyelesaian tugas-tugasyang ada. Caranya, dengan lebih mendalami tugas yang diterima dan mencari tambahan referensi lain dalam penyelesaiannya.



2. Komunikasi Kerja (Writing and Reporting Skills)

Komunikasi dan penyampaian gagasan secara tertulis merupakan satu hal yang sangat penting dalam kerja profesi. Kita perlu terbiasa mengemas penyelesaian tugas yang kita jalani dengan laporan yang rapi. Ini membutuhkan kemampuan menulis laporan dan notulensi yang baik. Selain kemampuan menulis juga bermanfaat untuk mengkomunikasikan pekerjaan dan ide kita pada forum-forum seminar ilmiah. Sehingga melalui forum-forum seperti ini kita membangun networking lintas kantor (departemen lain atau kepada pihak swasta), atau lintas disiplin.

Maka membuat daftar (database) pribadi tentang tugas-tugas yang telah kita kerjakan akan memudahkan kita memberikan laporan secara sistematis kepada atasan dan dapat dipakai untuk mengukur prestasi kerja kita pribadi. Dengan langkah ini lah kita akan terbiasa bekerja tertata.



3. Memahami Visi Lembaga (Strategic Thinking)

Untuk dapat membuat ide besar di kantor, kita mesti mengenal apa ide dan tujuan besar keberadaan lembaga kita. Ini dikenal belakangan dengan istilah visi dan misi lembaga. Untuk mengetahui hal ini, kita dapat bertanya kepada keypersons clan membaca laporan-laporan lama yang ditulis para founding fathers institusi tempat kita bekerja, seraya terus mengikuti perkembangan mutakhir yang terkait dengan fungsi strategic institusi itu.

Selain itu, perlu ditemukan posisi unik dan signifikan institusi kita di tengah konstalasi pemerintahan. Pemahaman ini akan menjadi modal bagi kita untuk: pertama, bagi pribadi, menemukan kepastian dan kebanggaan akan tempat kerja. Dan kedua, meningkatkan kemampuan dalam membangun networking.



4. Mengajukan Gagasan (Formal Communication Skills)

Perangkat lain yang juga penting dalam da’wah profesi adalah kemampuan mengajukan gagasan secara oral. Keterampilan ini dimulai dari kemampuan dan kemauan untuk mendengar. Perlu ditemukan momentum-momentum penting di mana kita dapat menyampaikan gagasan-gagasan cerdas untuk meningkatkan prestasi lembaga. Hal lain dalam kaitannya dengan pengajuan gagasan adalah kemampuan presentasi ide. Ketepatan penyampaian masalah, waktu, dan sarana yang digunakan merupakan bekal yang sangat menunjang keberhasilan presentasi.



5. Manajemen Waktu dan Tugas (Time and Tasks Management)

Dalam menerima kesibukan tugas, kita mesti pandai memilah berdasarkan tingkat prioritas. Pada saat sibuk dibutuhkan kecepatan dan ketepatan kerja. Baik sekali bila kita punya teman sejawat yang dapat bahu membahu menyelesaikan tugas-tugas yang mesti dikerjakan.

Namun ada saatnya tugas-tugas itu mesti dikerjakan sendiri. Inilah fase di mana kemampuan kita diuji secara optimum. Bahkan jika kita mampu melalui fase ini, barangkali tidak lama lagi kita akan diberikan amanah kepemimpinan (misalnya pimpinan unit kerja, kelompok kerja atau unit struktural. Kunci terpenting untuk dapat melalui fase ini adalah kemampuan memenej waktu dan tugas dengan baik. Ketekunan dan ketepatan kita masuk dan pulang pada jam kantor sangat penting.



6. Jaringan (Network Creating)

Pemahaman kita akan visi dan misi lembaga ditambah perkenalan kita dengan key persons akan membawa kita pada lingkungan dan forum-forum yang lebih luas. Jaringan komunikasi juga mesti dirintis atas dasar kemampuan individual. Salah satunya adalah dengan memasuki asosiasi profesi yang terkait dengan spesialisasi kita. Asosiasi profesi biasanya mengadakan pertemuan ilmiah atau kongres secara rutin. Forum-forum ini merupakan tempat efektif untuk memperkenalkan keahlian atau spesialisasi kita.

Ada cara lain yang sangat efektif untuk memperkenalkan diri ke masyarakat luas, yaitu dengan menyampaikan gagasan pada media massa yang dibaca oleh orang banyak. Atau dengan menggagas penelitian dan kerja lintas kantor. Intinya adalah kita membangun networking seluas mungkin.

Enam tips itqon di atas dapat dikatakan bersifat individual dalam rangka memperkenal sosok kita. Ini merupakan syarat penting sebelum kita berinteraksi dengan orang lain dan mengajak mereka ke jalan kebaikan, secara personal maupun massal. Bisa dikatakan, menjadi pribadi yang profesional adalah entry pointnya. Setelah itu, masih banyak hal yang mesti dilakukan. (wallahu’alam)

hati vs nash

Suara hati memang sangat penting. Pendapat apapun yang disampaikan orang terhadap suatu perkara, suara hati tetap harus lebih diutamakan. Karena sejatinya, dialah yang paling jernih menentukan langkah yang benar atau salah.

Ada perkataan Imam Nawawi yang menarik dalam hal ini. “Jika engkau menerima hadiah dari seorang yang hartanya lebih banyak berasal dari yang haram, dan hatimu ragu-ragu untuk memakannya karena ketidakjelasan antara halal dan haramnya makanan tersebut. Kemudian ada seorang mufti (pemberi fatwa) memberi fatwa halal dan tidak melarang memakannya, maka status syubhat dari makanan itu tetap tidak hilang dengan fatwa tersebut." Artinya, meninggalkan makanan tersebut lebih utama dan lebih menenangkan hati, ketimbang mengikuti fatwa namun membuat hati gelisah. Begitulah istimewanya hati.

Apa alasannya? Disebutkan dalam kitab Al-Wafi yang menjelaskan makna hadits Rasulullah dan keterangan Imam Nawawi itu, segala sesuatu yang membawa ketidaktenangan hati adalah dosa, meskipun ada fatwa yang menyebutkannya bukan dosa. Karena para mufti mengeluarkan fatwa berdasarkan masalah yang tampak, bukan masalah yang bersifat batin. Batin seseorang – yang mendapatkan cahaya Allah dalam hatinya – lebih diketahui oleh dirinya sendiri, bukan orang lain. (41-Wafi, 195)

Namun perlu diingat, bahwa penjelasan di atas tidak berarti bahwa apapun suara hati harus dituruti. Tidak selamanya ungkapan hati menjadi pembenaran atas segala perkara. Hati bisa dimintakan fatwa dalam permasalahan yang bersifat umum dan mungkin tidak dijelaskan secara detail perbedaan dan batasannya dalam nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Dengan kata lain, suara hati tidak boleh mengalahkan petunjuk dalil yang jelas tertera dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Misalnya saja dalam kasus bolehnya berbuka puasa bagi musafir dan orang yang sakit, bolehnya mengqasar – memperpendek jumlah raka’at – shalat dalam perjalanan, dan sebagainya, yang berdiri di atas dalil syar’i yang jelas. “Bila ada fatwa yang jelas berlandaskan dalil syar’i maka wajib setiap muslim untuk mengutamakannya, meskipun hal itu tidak membuat hatinya puas," demikian dijelaskan dalam AI-Wafi.

Allah swt berfirman, "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu pikirkan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs. An-Nisa: 65)

Ketundukan dan ketaatan menerima ketentuan Allah yang telah jelas, tetap mendapat kedudukan lebih tinggi dari sekedar fatwa hati. Di sini, hatilah yang justeru harus tunduk pada tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sama halnya ketika Rasulullah saw meminta para sahabat mencukur rambut dan memotong hewan kurban setelah perjanjian Hudaibiyah. Ketika itu, sebagian sahabat berhenti dan enggan melakukan perintah Rasul. Tapi, berkat keikhlasan dan kebersihan hati mereka juga, akhirnya para sahabat menerima perintah Rasulullah dengan lapang dada. Allah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36). Wallahu a’lam bishawab.

jadilah Diri Sendiri

Ilmu genetika mengajarkan bahwa Anda adalah Anda sendiri, sebagai hasil dari 24 kromosom yang di curakan ayah Anda dan 24 kromosom lagi oleh ibu Anda. Ke-48 kromosom tersebut berisi segala sesuatu yang menentukan warisan siapakah Anda sebenar-nya. Amran Scheinfeld dalam bukunya, You and Heredity, mengatakan, "Dalam setiap kromosom itu terdapat ratusan gene dan dalam kasus tertentu, sebuah gen akan mampu mengubah kehidupan seseorang.”

Kita ini diciptakan dengan sangat mengesankan dan menakjubkan. Setelah ibu dan ayah bertemu dan melakukan pembuahan, hanya ada satu kemungkinan dari 300.000.000.000 yang lahir. Dan, itulah Anda. Dengan kata lain bila Anda mempunyai saudara kandung sebanyak 300.000.000.000, maka tak seorang pun yang sama persis dengan Anda. Amran melanjutkan, “Anda adalah diri sendiri di dunia ini."

Sementara Dale Carnegie mengatakan, "Anda adalah sesuatu yang baru di dunia ini. Tak pernah terjadi sebelumnya, sejak dunia ini diciptakan, seseorang yang benar-benar sama dan sempurna dengan Anda, dan sampai dunia akhirnya nanti berhenti, tak akan lahir lagi seseorang yang sama dengan Anda.”

Dalam Islam, konsep ‘kesendirian’ merupakan acuan utama dari perintah untuk beramal. Artinya, manusia harus memperbanyak amalnya karena kelak ia akan dihisab secara sendiri-sendiri. Orang lain tidak bisa memberi manfaat, hanya amalnya yang menentukan. Memang, kita perlu bekerja sama dengan orang lain, tapi itu hanya alat bantu saja dan bukan alat untuk melimpahkan dosa atau mengurangi tanggung jawab pribadi.

Itu pula isyarat nyata dari Allah, bahwa syetan sekalipun yang hobinya menjerumuskan manusia, kelak tak akan mau bertanggung jawab. “Seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu,” Maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya kau takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Al-Hasyr: 16). Lalu bagaimana akibatnya, “Maka adalah kesudahannya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Hasyr: 17).

Semangat menjadi diri sendiri bukan berarti menafikkan keteladanan. Tapi meneladani orang lain tak berarti Anda memindahkan kepribadian orang lain tersebut pada cetakan kepribadian Anda. Sesungguhnya apabila seseorang keluar dari pembawaan wataknya, dan memisahkan dirinya dari tabiat akal dan jiwanya yang tidak ada penyimpangan di dalamnya, merupakan suatu perkara yang akan merusak kehidupan orang tersebut dan menimbulkan goncangan-goncangan dalam tingkah lakunya. Anda mungkin sudah mendengar tentang kisah seekor gagak yang tertarik untuk berjalan di atas tanah, akibatnya ia tidak dapat melangkah sebagaimana yang ia inginkan, dan tidak dapat terbang sebagaimana ia diciptakan.

Sesungguhnya sangat sulit sekali bagi manusia walau bagaimana pun ia berusaha, untuk menjadi yang lain dari dirinya. Dale Carnegie mengisahkan, “Saya bertanya kepada direktur Socony Vacuum Oil Company tentang kesalahan paling besar yang dilakukan oleh orang-orang yang melamar pekerjaan." Ia menjawab, “Kesalahan yang paling besar dari pelamar pekerjaan adalah mereka tidak mau menjadi diri mereka sendiri. Bukannya mereka mengemukakan ide-ide mereka dengan jujur, tetapi kadangkala malahan mencoba memberikan jawaban yang menurut perkiraan mereka kita inginkan. Tentu saja mereka gagal, karena tak seorang pun yang ingin mempunyai karyawan yang tidak jujur dan palsu."

Menjadi diri sendiri artinya kita mengoptimalkan segala potensi diri yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bahkan dalam potensi-potensi itu ada berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah SWT berfirman, ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Qs. Fushilat: 53).

William James, seorang ahli juga, pernah mengatakan bahwa, “Seandainya kita mengukur diri kita dengan apa yang seharusnya kita berkembang menurut pembawaan kita, maka akan jelaslah bagi kita bahwa kita ini hanya setengah sadar. Atau dengan kata lain, kita hanya menggunakan sebagian kecil dari sumber-sumber kemampuan fisik dan mental kita. Sebenarnya banyak kekuatan lain yang bermacam-macam yang kita miliki, namun kita tak menyadarinya. Masih banyak bermacam-macam kemampuan yang gagal kita manfaatkan."

Dalam tradisi interaksi antara Rasulullah dengan para sahabat, sering kita dapati Rasulullah sengaja memancing kemandirian para sahabat untuk mengemukakan pendapat. Tentunya hanya untuk hal-hal yang belum turun wahyu. Seperti yang terjadi tatkala beliau bermusyawarah dengan para sahabat tentang tawanan perang Badr, maka para sahabat mengemukakan pendapatnya masing-masing sesuai dengan apa yang dianggap benar.

Abu Bakar misalnya, mengemukakan agar tawanan itu diampuni, Rasulullah SAW. Abu Bakar beliau samakan dengan Nabi Ibrahim AS, yang berkata mengenai kaumnya, “Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ibrahim:36)

Sementara Umar, beliau serupakan dengan Nabi Nuh AS, yang telah berkata mengenai kaum-nya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Qs. Nuh: 26-27).

Sangat tampak dalam kisah di atas bahwa kedua sahabat tersebut masing-masing mengemukakan pendapat yang mereka anggap benar, sebagaimana ditunjukan oleh pikirannya yang bebas dan perbedaannya yang khusus dalam memecahkan masalah. Itulah kemandirian. Kemandirian itu bahkan bermuara kepada fitrah manusia yang bersih. Yang tidak mau menjilat-jilat dan mendustai nuraninya sendiri. “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (Qs. Ar-Ruum: 30)

Yakinlah bahwa iri hati adalah kebodohan. Dan, kepalsuan itu adalah bunuh diri. Mestinya orang rela dan bersyukur atas apa yang dimilikinya sebagaimana Allah telah menentukan baginya. Di atas hamparan dunia yang luas dan begitu subur ini, tak akan ada biji jagung yang tumbuh baik tanpa ditanam dan dipelihara dengan baik pula. Kekuatan yang ada pada seseorang adalah sesuatu yang baru, alamiah dan tak seorang lain pun yang tahu apa yang dapat dilakukannya. Dan, si empunya tak akan menyadari sebelum ia mencobanya.

Semua potensi itu bisa diasah, dengan berbagai macam cara yang terus berkembang, dari model pelatihan hingga disiplin ilmu yang sudah permanen, dari berguru hingga belajar sendiri. Maka, tunggu apalagi. Segera kenali diri, gali potensi, dan jadilah diri kita sendiri yang jujur dan berani bertanggung jawab. Wallahu’alam

Syahwatun Nissa

Saudaraku,

Adalah lumrah, bila seorang musafir harus tahu benar karakter perjalanan yang akan dilaluinya. Salah satu karakter perjalanan itu adalah munculnya fitnah dan ujian. Bila tak disikapi dengan benar, bisa jadi arahnya akan menyimpang.

Kemunculan fitnah merupakan sunnatullah. Maka ia sangat tergantung lemah atau kuatnya iman sang musafir. Bila imannya prima, hubungan dengan Allah kuat, ujian apapun takkan dapat menjerumuskan. Beda halnya ketika iman melemah. Sedikit saja ujian menerpa, dapat membuatnya terjungkal.

Allah telah menakdirkan terjadinya fluktuasi iman. Tinggi dan rendahnya keimanan, adalah fenomena yang pasti dialami setiap orang. "Iman itu bertambah dan berkurang," demikian sabda Rasulullah SAW. Karena itu, satu satunya cara -di samping senantiasa, berusaha memperbarui iman-, adalah harus tetap waspada menghadapi berbagai gejala munculnya fitnah.

Saudaraku,

Syaikh Adil Abdullah al-Laili dalam kitab Musafir fi Qithari Da’wah, menguraikan, salah satu fitnah besar yang menghadang seorang mukmin adalah fitnah syahwat. Fitnah inilah yang pertama kali menerpa ayah kita Adam ‘alaihissalam. Terdorong melayani rongrongan syahwat fisik perut, setelah tertipu iblis, ia memakan buah yang dilarang Allah.

Allah menyebutkan, manusia tercipta dari tanah yang gosong (hama’in masnun). Tanah yang gosong, logikanya memiliki anasir tanah dan api yang menjadikannya gosong. Maka manusia memiliki sifat tanah (ardh), dan sifat api (naar). Syahwat manusia berputar di antara keduanya. Yang tekait dengan materi tanah, akan membawanya condong pada segala hal yang bersifat keduniaan. Keinginan memiliki harta, kekayaan, kecintaan pada anak dan istri, dan sebagainya. Dalam taraf tertentu, potensi syahwat ini dapat menggiring manusia terjerembab dalam perbuatan keji, seperti mencuri atau berzina. Adapun syahwat api (syahwat nariyah), wujudnya gejolak jiwa yang meletupkan kemarahan, rasa sombong, membangkitkan ambisi untuk dihormati, cinta jabatan, dan semisalnya.

Saudaraku,

Fitnah paling dahsyat -menurut Rasulullah-dalam hal syahwat, adalah fitnah yang pertama kali menyesatkan Bani Israil, yakni wanita. Syahwat wanita dapat menjadikan orang terjerumus dalam berbagai perilaku dosa.

Para juru dakwah, bukan tak mungkin terjerumus dalam fitnah wanita. Apalagi hidup di zaman seperti saat ini. Allah juga telah menjelaskan, "Allah menghiasi manusia dengan cinta syahwat pada wanita." (Ali Imran : 14). Rasulullah sendiri mewanti-wanti kepada umatnya tentang hal ini, "Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berat kepada kaum lelaki dari pada fitnah wanita." (Muttafaq Alaih). Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, "Fitnah wanita lebih dahsyat ketimbang fitnah anak. Sebab, wanita memiliki dua fitnah, sedangkan anak memiliki satu fitnah. Dua fitnah yang ada pada wanita: Pertama, ia dapat memunculkan rusaknya hubungan antara dua orang bila dalam suatu perkara wanita menuntut suaminya melakukan hal itu. Kedua, fitnah ambisi mengumpulkan harta, dengan cara halal maupun haram. Sedang fitnah anak hanya satu, mendorong orang mengumpulkan harta." (Tafsir Qurthubi, 4/29)

Saudaraku,

Cinta kepada istri itu halal dan harus. Tapi adakalanya kecintaan dan kedekatan itu menjadi penghalang dari perbuatan ma’ruf. Indikasinya, terlalu takut bahaya menimpa keluarga, ingin selalu dekat dengan istri, lebih mengutamakan syahwat dunia dari amal akhirat. Kondisi ini bahkan bisa berlanjut pada pemutusan silaturahim, atau menyakitkan orang tua, enggan berinfaq.

Fitnah ini sering datang sembunyi-sembunyi, nyaris tak terasakan. "Yang pertama kali memakan buah itu adalah Hawa, akibat tipu daya iblis kepadanya. Pertama kali iblis berkata kepada Hawa, karena dialah yang mudah ditipu. Itulah fitnah pertama yang menimpa lakilaki dari wanita. Iblis pun lalu mengatakan, ‘Apa yang menghalangi kalian berdua dari pohon yang akan membawa keabadian ini.’ Iblis datang kepada mereka dari pintu yang mereka sukai. ‘Cintamu pada sesuatu, akan membuatmu buta dan tuli."’ (Tafsir Al-Qurthubi: 1/308)

Renungkanlah,

Iblis lantaran tahu, tipu daya dari sisi wanita lebih efektif dan mudah sampai pada seorang pria. Ketika itu, telinga dapat tertutup dari kebaikan. Mata jadi buta dari yang ma’ruf. Mungkin ada pengalaman hidup yang bisa jadi pelajaran kita. Ketika banyak da’i rela meninggalkan amal shalih, demi istrinya. Melanggar maksiat, karena terlalu banyak mendengarkan apa yang diinginkan istrinya. Atau, mungkin yang lebih rendah dan lebih bahaya dari itu, ada suami yang cenderung merendahkan orang lain hanya karena mendengar apa yang dikatakan istrinya. Akhirnya, seorang suami jadi merasa nikmat membicarakan -dengan istrinya- aib-aib saudaranya, membuang waktu, menghilangkan pahala, dan menambah dosa …., naudzubillah..

Saudaraku,

Seorang da’i, betapapun kuat kepribadiannya, tajam pikirannya, harus waspada dari fitnah wanita. Jauhi segala kondisi yang dapat memunculkan fitnah itu. Hindari segala keadaan yang menjadi prolog untuk dosa dan kesalahan, apapun alasannya. Para ulama telah mengingatkan laki-laki dari wanita, hatta dengan alasan mengajarkannya kalamullah Al- Qur’anul karim. Ulama zuhud, seperti Maimu’ bin Mahran, mengatakan, "Tiga hal yang jangan sampai dirimu melakukannya, antar lain, …. jangan engkau mendatangi wanita meskipun engkau beralasan: "Aku ingin mengajarkannya kitabullah." (Siyar A’lal Nubala, 5/17)

Jaga jarak dengan kerabat yang bukan mahram, betapapun urf atau adat yang berlaku menganggapnya wajar dan biasa saja. Waspadai terhadap fitnah yang datang dari pihak istri, termasuk dalam kerangka kerjasama dakwah. Sebab, laki-laki memang lemah di hadapan wanita. "Dan manusia diciptakan dalam kondisi lemah". Imam al-Qurthubi meriwayatkan bahwa Thawus berkata, "Ayat ini khusus dalam masalah wanita." Juga diriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa ia membaca ayat tersebut, lalu kata lemah disana beliau artikan sebagai tidak sabar menghadapi wanita. (Tafsir Qurthubi, 5/149)

Saudaraku,

Kita tak memungkiri janji Rasulullah, "Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihat. Namun, mendidik wanita agar jadi shalihat, sama beratnya dengan menjauhi fitnah mereka.

Wallahu a’lam bisshawab

Cara Membangun Optimisme

"SUDAHLAH! Jangan ngoyo, kita nggak akan berhasil!" Kata-kata seperti ini mungkin pernah kita dengar pada saat orang atau kelompok orang menyusun rencana dan target kerja.

Ada dua kemungkinan mengapa kata-kata ini keluar dari mulut seseorang. Pertama, rencana yang dibuat memang tak realistis. Kedua, ada orang yang selalu memandang berat setiap masalah. Alasan kedua inilah yang biasa disebut sebagai sikap pesimis.

Sikap pesimis merupakan halangan utama bagi seseorang untuk menerima tantangan. Orang yang telah terjangkiti virus pesimis selalu merasa hidupnya penuh dengan kesulitan. Ia selalu berada dalam ketidakberdayaan menghadapi masa depan.

Penyakit pesimis dapat terbangun akibat proses pendidikan yang kurang baik: bisa dari masa kecil atau akibat peristiwa sesaat yang sangat menyakitkan. Penyebab pertama, biasanya akan lebih sulit diperbaiki, karena pesimisme telah menyatu dalam kepribadian orang tersebut. Mereka memiliki konsep diri yang kurang baik dan memiliki pandangan yang buram terhadap kehidupan dan masa depan nya. Sedang pesimisme yang terjangkit akibat pengalaman pahit, lebih mudah diatasi sejauh orang tersebut dapat menata kembali target dan langkah-langkahnya dalam mencapai target tersebut.

Berikut beberapa-hal yang dapat menumbuhkan perasaan pesimistis dalam diri seseorang:

1. Terlalu sering dibantu. Anak yang tumbuh dalam suasana sering dibantu seringkali tak dapat mengenali kemampuannya. Ia akan sering mengatakan, "Saya tak bisa." Ini terjadi karena anak tak dibiarkan menghadapi kesulitan sedikitpun. Ketika si anak mengeluh tentang sulitnya ‘PR’ dari sekolah, orang tua lantas mengambil alih PR tersebut. Ketika anak menghadapi masalah dengan mainannya, orang tua segera mengatasi masalah tersebut. Dalam jangka panjang, anak ini akan tumbuh sebagai orang yang merasa tak mampu menghadapi kesulitan. Ia akan selalu mengharapkan bantuan orang lain dalam mengatasi masalah-masalahnya. Manakala bantuan itu tak ia peroleh, ia pun merasa tak dapat berbuat apa apa.

2. Terlalu sering dilecehkan. Orang yang dalam masa pertumbuhannya seringkali dilecehkan akan menganggap dirinya menjadi orang terbodoh se-dunia. Keadaan ini tentu membuatnya memandang buram potret diri dan masa depannya. Ia juga akan merasa tak mampu mengatasi persoalannya sendiri.

3. Sikap negatif terhadap kegagalan. Kalau kita lihat dalam keseharian, ada orang yang merasa selalu ditimpa kegagalan. Pada kenyataanya, tak ada seorang pun di dunia ini yang selalu gagal dan tak pernah berhasil. Masalahnya adalah bagaimana ia menyikapi kegagalan. Ada orang yang merasa begitu hancur ketika ditimpa kegagalan. Kegagalan menjadi peristiwa yang amat besar dalam hidupnya, sebab keberhasilan tak pernah ia syukuri sedikitpun. Akibatnya, ia merasa sebagai pecundang, bodoh dan tak punya masa depan.

4. Dampak optimisme berlebihan. Optimisme berlebihan seringkali menyisakan pengalaman pahit dalam diri seseorang. Pengalaman ini membuat orang tak lagi bergairah membicarakan target-target yang telah gagal itu. Orang seperti ini menghadapi trauma untuk membicarakan hal tersebut. Keadaan seperti ini tentu akan menyulitkan bagi orang tersebut untuk bangkit dari kegagalan. Ia akan lebih tertarik untuk membicarakan dan memulai hal-hal baru daripada mengulang kembali pengalaman pahit tersebut.



Pesimisme, baik yang dialami oleh individu maupun kelompok, memang harus diatasi. Namun, dibutuhkan keteguhan dalam membatasi masalah kejiwaan yang satu ini, karena pesimisme terbangun dari pengalaman dan kita tak bisa mengubah hal-hal yang telah terjadi. Ada bebarapa hal yang mungkin dilakukan untuk membangun kembali optimisme kita:

1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu, sepahit apapun pengalaman itu. Dalam kegagalan, sekalipun masih ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang terselip, cobalah temukan keberhasilan itu dan syukuri keberadaannya. Upaya ini paling tidak akan mengobati sebagian dari perasaan hancur yang kita derita. "Tapi bagaimanapun saya telah gagal" Buang jauh-jauh pikiran tersebut, karena pikiran tersebut tak akan membantu kita dalam meraih nikmat Allah berikutnya. Allah hanya akan menambahkan nikmatNya pada orang yang mau mensyukuri pemberianNya meskipun nikmat itu sedikit.

2. Tata kembali target yang ingin kita capai. Jangan terbiasa membuat target yang berlebihan. Kita memang harus optimis, tapi kita perlu juga mengukur kemampuan diri sendiri. Kita juga perlu menelaah lebih jeli cara apa yang mungkin kita lakukan untuk mencapai target tertentu. Cara Irak menghadapi agresor/penjajah AS mungkin dapat dijadikan contoh. Dari awal Irak tak mengatakan akan menang dalam pertempuran. Tapi mereka hanya mengatakan "AS akan menghadapi kesulitan jika berhadapan dengan tentara dan perlawanan rakyat Irak." Irak pun menghitung-hitung dalam medan mana ia dapat memberikan perlawanan yang sengit terhadap para agresor/penjajah tersebut. Mungkin Irak berusaha memenangkan pertempuran di medan opini dunia dan jalur diplomatik. Ini adalah satu contoh bagaimana sebaiknya menetapkan target dengan melihat kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.

3. Pecah target besar menjadi target-target kecil yang dapat segera dilihat keberhasilannya. Seringkali ada manfaatnya untuk melihat keberhasilan-keberhasilan jangka pendek dari sebuah target jangka panjang. Hal ini akan semakin menumbuhkan semangat dan optimisme dalam diri kita. Tentu kita harus terus mensyukuri apa yang kita peroleh dari capaian target-target kecil tersebut. Jangan pernah terbetik dalam hati, "Ah baru segini, target kita masih jauh." Sikap ini sama sekali tak membangun rasa optimis.

4. Bertawakal kepada Allah. Menyadari adanya satu kekuatan yang dapat menolong kita di saat kita menghadapi rintangan merupakan modal dasar yang cukup ampuh dalam membangun optimisme. Bertawakal tentu harus dilakukan bersamaan dengan upaya kita memperbaiki target dan strategi pencapaiannya.

5. Langkah terakhir kita perlu merubah pandangan kita terhadap diri sendiri dan kegagalan. Kita perlu lebih sayang dan menghargai diri sendiri. Jangan kita terus menerus mengejek diri sendiri. "Aku ini orang bodoh, tak bisa apa apa." Ini bukanlah sikap merendah, tapi merupakan sikap ingkar terhadap kelebihan yang telah Allah karunikan kepada kita. Wallahu’alam.

Kerang

SUATU ketika, seekor anak kerang datang kepada ibunya dengan menangis. Agaknya ia menahan sakit. Sang Ibu tampak bingung. "Mengapa menangis? Ada apa dengan tubuhmu?" Sang ibu tampak ingin memeluk sang anak.

Si kerang kecil kembali menangis. Terdengar suara tertahan, "Ibu, tubuhku dimasuki sebutir pasir. Rasanya sakit sekali." Kerang kecil itu meneruskan, "Aku tak mampu menahannya, pasir itu masuk ke cangkangku. Tolonglah Bu, tolong buka cangkangku. Aku tak mampu membukanya. Rasanya sakit sekali…." Sayang sekali, tampaknya sang Ibu tak dapat memenuhi permintaan sang anak.

Berhari-hari lamanya si kerang kecil menahan sakit. Setiap hari sang kerang menangis. Setiap hari pula ia berdoa agar dapat terlepas dari derita semacam ini. Ia berharap agar pasir itu dapat tercabut, dan terangkat dari dalam tubuhnya. Bertahun-tahun lamanya si kecil menangis, tapi cangkang itu tak juga terbuka. Pasir yang ada di dalamnya pun semakin mengeras, membesar menjadi sebuah batu yang mengkristal.

Tiba-tiba, ada seorang penyelam datang. Ia lalu menjumput kerang itu dari karang, dan membawanya ke permukaan. "Hei lihat, aku temukan kerang mutiara di sini!" teriaknya melengking, memberitahu temannya di atas perahu.

Kedua orang itu segera merapat. Salah seorang di antaranya mengambil pisau, dan mencungkil salah satu cangkang. Tampak cahaya yang berkilau dari dalam. Sebutir mutiara, tampak menempel di sana. Begitu indah, membuat kedua penyelam itu tersenyum. "Terima kasih Tuhan atas berkah ini." Penantian sang kerang kecil berakhir. Pasir yang mulanya tampak menyakitkan itu, kini berubah menjadi mutiara yang indah.

—-

Penantian hidup, dalam kesengsaraan, rasa risau, serba tak cukup mungkin bukan pilihan setiap orang. Banyak orang yang kemudian berputus asa. Tak sedikit pula di antara mereka yang memilih untuk mengutuk Sang Pencipta: "Tuhan tidak adil!"

Penantian bagi sang kerang, untuk mengubah pasir menjadi mutiara bisa jadi hal yang sangat menyiksa. Sang kerang tak tahu, kapan cobaan itu akan berakhir. Dari sana, kita belajar satu hal: untuk mencapai suatu keagungan, perlu waktu dan perlu kesabaran. Untuk menjadi hiasan bagi raja-raja dan bangsawan, sang kerang mutiara butuh malam-malam penuh doa dan tangisan.

Teman, tidakkah kisah ini mengabarkan sesuatu buat kita? Manakah kelak yang menjadi pilihan hidup kita? Menjadi kerang dengan mutiara yang berharga mahal? Atau menjadi tiram yang dijual murah di pasar-pasar? Saya percaya, setiap pilihan akan punya risiko. Tak ada yang tahu memang, sampai kapan cobaan "pasir" yang kita jalani akan menjadi "mutiara" kelak. Tak ada yang tahu, teman. Hanya mereka yang sabar dan gigihlah yang kelak akan tahu jawabannya. Wallahu’alam